Bupati Bogor menginstruksikan tiga SMP di Kecamatan Dramaga untuk memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh selama dua hari guna memberikan ruang pemulihan bagi ratusan siswa yang terdampak dugaan keracunan makanan. Selama masa PJJ, proses belajar tetap berjalan secara daring agar hak belajar siswa terpenuhi, sementara pihak sekolah terus memantau perkembangan kesehatan para korban di rumah sakit.
BOGOR, bogor.saatini.com - Perkembangan positif ditunjukkan oleh para siswa korban dugaan keracunan makanan di tiga Sekolah Menengah Pertama (SMP) wilayah Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor.
Sejumlah siswa yang menjalani perawatan intensif di rumah sakit mulai pulih, bahkan tiga di antaranya dari RS Medika Dramaga dijadwalkan diperbolehkan pulang pada Kamis (29/10/2026) siang.
Guna memberikan ruang pemulihan fisik dan mental bagi ratusan siswa yang terdampak, tiga sekolah yakni SMPN 1, SMPN 2, dan SMPN 3 Dramaga, resmi memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama dua hari, terhitung Kamis hingga Jumat (29–30/10/2026).
Humas SMPN 1 Dramaga, Rahmat Hidayat, mengonfirmasi bahwa skema PJJ ini dijalankan sesuai instruksi langsung dari Bupati Bogor, Rudy Susmanto, melalui dinas terkait.
"Hari ini sudah mulai diberlakukan, alhamdulillah lancar," kata Rahmat saat dikonfirmasi, Kamis (29/10/2026).
Selama masa pemulihan dua hari tersebut, para siswa tetap mengikuti proses belajar mengajar dari rumah masing-masing dengan pengawasan penuh dari guru kelas.
Materi serta tugas sekolah didistribusikan secara daring melalui aplikasi media sosial agar hak belajar siswa tetap terpenuhi tanpa mengganggu proses penyembuhan.
Pihak sekolah menegaskan, prioritas utama saat ini adalah memastikan kondisi kesehatan para siswa kembali bugar secara menyeluruh sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka kembali dibuka secara normal.
Pihak manajemen sekolah terus membangun komunikasi intensif dengan sejumlah rumah sakit rujukan yang merawat para korban.
"Di RS Medika siang ini tiga boleh pulang. Untuk di RS Karya Bhakti masih menunggu informasi," terang Rahmat menjelaskan pembaruan data medis siswa.
Meski sebagian besar siswa menunjukkan tren kesembuhan yang menggembirakan, pemantauan ketat masih terus dilakukan terhadap siswa lain yang dirawat di rumah sakit berbeda.
Evaluasi kesehatan secara berkala ini menjadi pijakan utama sekolah untuk menentukan kesiapan para siswa kembali ke bangku kelas pekan depan.